Tampilkan postingan dengan label creativity. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label creativity. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Juni 2010

KREATIFITAS TANPA BATAS (MELATIH POTENSI OTAK)




Kita mungkin bertanya-tanya mengapa sedikit sekali karya kreatif yang lahir di negeri ini. Apakah karena kita bodoh ? Tidak !, Banyak sekali universitas yang setiap tahun melahirkan puluhan ribu sarjana. Apakah karena spec otak kita di bawah rata-rata ? Sekali lagi Tidak !, Beberapa tahun terakhir anak-anak negeri ini unjuk gigi pada olimpiade matematika dan fisika. So, what ? Ada banyak faktor, namun berikut ini faktor yang paling besar kontribusinya.

Mungkin kita tidak pernah menyadarinya, Orang tua kita sering lebih banyak “mengajarkan” untuk lebih banyak menggunakan tangan kanan. “Pakai tangan yang baik !”, baca: pakai tangan kanan, dan bahwa tangan kiri jelek. Jika tangan kiri jelek mengapa Tuhan menciptakan tangan kiri ? Dan apa yang diajarkan itu terus tertanam dalam diri kita.

Fakta medis berbicara bahwa tangan kanan dikendalikan oleh otak kiri, dan tangan kiri dikendalikan oleh otak kanan. Otak kiri berperan dalam kegiatan analitis, dan otak kanan berperan dalam sisi kreatif dan imaginasi. Semakin besar ketidakseimbangan kita dalam menggunakan tangan, yang kita terlalu sedikit menggunakan tangan kiri, maka otak kanan yang mengatur sisi kreatif dan imajinasi kita, sangat lemah dan tumpul. Mungkin kita pandai, mungkin kita sarjana, atau bahkan master. Namun sudah bisa ditebak bahwa tidak akan banyak karya kreatif yang bisa ia lahirkan. Kepandaian, sehebat apapun itu, tanpa sisi kreatifitas, hanya akan menjadi mesin yang akan dikendalikan oleh pihak lain.

Yang tersembunyi dari cara kerja otak.

Otak merupakan central command pada setiap makhluk hidup, dimana setiap gerakan yang dilakukan oleh tubuh adalah hasil komando dari otak. Apa jadinya jika otak kehilangan atau setidaknya berkurang fungsinya sebagai central command? Tentu saja gerakan yang dibuat tidak akan terkontrol atau mungkin bahkan anggota tubuh lainnya tidak lagi dapat melakukan gerakan alias lumpuh… takuuut!

Otak Tidak Terlatih

Pada banyak penelitian mengenai kemunduran fisik otak, sebuah universitas di Amerika meneliti dua orang pria dengan umur dan kondisi yang sama. Profesi dari masing-masing pria tersebut adalah dosen dan arsitek. Kedua profesi tersebut diyakini banyak menggunakan otak dan kurang lebih porsi penggunaan otaknya sama.

Pria pertama adalah seorang dosen yang berumur 50 tahun. Di usia dimana sudah harus pensiun dari pekerjaan yang sekian puluh tahun telah digelutinya. Sebagaimana kita tahu bahwa dosen merupakan tenaga pendidik dimana otak adalah kebutuhan nomor satu yang dapat diandalkan sebagai seorang pengajar, ketrampilannya mengajar dan ketahanannya untuk berdiri ke depan kelas adalah kebutuhan nomor sekian.

Lalu kemudian, hari-hari pada masa pensiunnya, ia isi dengan kesibukan berkebun dan menonton televisi. Setelah kira-kira 5 tahun kedepan apa yang terjadi? Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh peneliti kepada pria pertama tersebut tidak dapat ia jawab sebaik saat ia mengajar di depan kelas. Padahal pertanyaan tersebut adalah materi yang biasa ia berikan kepada siswanya. Begitu pula pertanyaan seputar dunia yang masih hangat ditayangkan televisi. Ia hanya mampu menjawab dengan jawaban ringan dan lebih mengemukakan opininya sendiri berdasarkan pengalaman yang pernah didapatnya.

Dalam penelitian itu, ditemukan bahwa pria pertama tersebut mengalami kehilangan memori sebesar 20% dan kecepatannya memecahkan masalah juga berkurang 18%.

Otak Terlatih

Pada pria kedua yakni seorang mantan arsitek dimana ia juga memutuskan untuk pensiun di usia 50 tahun. Selama masa kerjanya ia terbiasa menghitung berat jalan atau bangunan yang dibuatnya hingga hitungan per milimeter, enghitung kekuatan angin pada gedung-gedung bertingkat, memikirkan fungsi ruangan yang saling terkait, hingga perhitungan budget per sen-an.

Kemudian pada masa pensiunnya, pria kedua dalam penelitian ini memilih menjadi seorang konsultan arsitek, dan hari-harinya tidak pernah putus dari sebua komputer. Sebagai seorang pensiunan dan hanya menjadi seorang konsultan tentu banyak waktu luang. Tapi waktu luang tersebut ia gunaka untuk mencoba dan mempelajari software-software baru. Ia juga menonton televisi pada sebagian waktu luangnya. Mangikuti acara permainan kuis yang banyak sekali diputar di stasiun tv, mulai dari kuis tebakan kata atau gambar hingga pada kuis ilmu pengetahuan umum dan teknologi.

Apa yang terjadi setelah 5 tahun? Bukan…, bukan hanya 5 tahun, bahkan hingga 7 tahun kemudian, ia tetap menjadi seorang arsitek dengan ide-ide terbarunya yang segar yang kerap menjadi tren pada disain arsitekturnya. Hingga pada penggunaan software terbaru dapat secara baik dikuasainya.
Kedua contoh di atas sangat jelas sekali perbedaannya. Di mana otak yang sudak tidak pernah dilatih dengan cepat akan mengalami kemunduran pada fungsinya. Sedangkan pada otak yang teratur besarnya fungsi otak dapat dipertahankan.

Pada penelitian tersebut, kedua pria tersebut di atas dinyatakan sehat. Karena banyak pria dengan umur di atas 40 tahun memiliki penyakit seperti stroke, diabetes, hipertensi dan penyakit lainnya yang bilamana memasuki usia 50-an biasanya akan mengganggu syaraf. Hal ini tentu saja akan menjadi hambatan pada otak, meskipun otak tersebut secara teratur dilatih. Walau penyakit-penyakit tersebut menghambat atau bahkan sangat mempengaruhi ketahanan dari fungsi otak, latihan fungsi otak tetap berguna untuk memperlambat laju penurunan fungsi otak.

Otak Kiri dan Otak Kanan

Manusia normalnya selalu menggunakan tangan kanan dalam melakukan hampir seluruh kegiatan, seperti makan, menulis dan lain-lain. Bila tangan kanan tersebut digunakan untuk melakukan suatu gerakan, sesungguhnya gerakan tersebut dikendalikan oleh otak kiri. Penggunaan otak kiri lebih berfungsi untuk pemikiran-pemikiran yang bersifat logis dan untuk kecepatan serta ketepatan dalam perhitungan numerik.

Normalnya juga, orang dewasa orang dewasa jarang menggunakan tangan kirinya, atau tangan kirinya jarang terlatih. Sering kita dapati bahwa daya khayal anak-anak di bawah umur 10 tahun sangat tinggi. Salah satu pemicu dari tingginya daya khayal mereka adalah frekuensi penggunaan tangan kirinya hanya selisih 30% dari penggunaan tangan kanan. Dan seiring pertumbuhannya selisih frekuensi antara penggunaan tangan kiri dan kanan semakin besar.

Pada masa sebelum sekolah, yaitu di bawah umur 6 tahun khususnya, anak-anak diajarkan melempar atau menangkap bola dengan menggunakan kedua tangannya, membawa gelas atau mangkuk dengan kedua tangan. Mereka biasa mengambil sesuatu dengan menggunakan tangan atau mengangkat tangan kirinya. Dan kita terlalu banyak diajarkan untuk menggunakan tangan kanan dan kebiasaan itu terus berlanjut saat dewasa.

Melatih Otak Kanan

Ada banyak cara untuk melatih otak kanan, dari cara yang sederhana yang biasa dilakukan sehari hari, hingga yang mungkin sulit seperti menulis dengan tangan kiri, jika normalnya menulis dengan tangan kanan. Cobalah dengan cara yang sederhana yang termudah dan kemudian secara bertahap pada gerakan yang lebih sulit.

Simak beragam cara yang bisa dilakukan untuk melatih ketangkasan bagi tangan kiri sekaligus melatih ketajaman otak kanan.
1. Angkat tangan kiri setinggi dada dan lakukan gerakan mengayun membentuk angka delapan tidur.
2. Gerakan menyilang dimana saat tangan kanan memukul ke kiri, kaki kiri menendang ke kanan, dan sebaliknya.
3. Lebih bervariasi lagi suatu gerakan akan lebih bagus efeknya pada fungsi otak. Lakukan semua gerakan yang menyilang yang mungkin bisa dilakukan seperti kedua gerakan di atas.
4. Untuk kegiatan sehari-hari, coba gerakkan dengan :
a. Menyapu atau membesrihkan lantai dengan tangan kiri.
b. Memasukkan bola pada keranjangnya dengan tangan kiri, usahakan agar bola terarah pada tujuan.
c. Bila memiliki kesabaran tinggi, coba dengan menulis menggunakan tangan kiri. Walau awalnya sulit namun hal ini sangat baik efeknya terhadap otak kanan.

Kamis, 10 Juni 2010

SEJAK BAYI, MANUSIA SUDAH PILIH-PILIH TEMAN



Pilih-pilih teman bukan dilakukan oleh orang dewasa saja. Sejak berusia beberapa bulan, bayi sudah mampu memutuskan akan bergaul dengan siapa. Jadi jangan heran kalau Anda ditolak oleh sejumlah bayi.

"Memutuskan dengan siapa seseorang bergaul : merupakan kemampuan penting bagi manusia dan mahluk sosial lain. Sebab kita harus bisa bekerjasama dengan orang lain," jelas pemimpin studi, Kiley Hamlin dari Yale Universit seperti yang dilansir Live Science.

"Dan mengetahui siapa yang bisa atau tidak bisa diajak bekerjasama menjadi informasi berharga saat kita memilih teman." Lanjut Hamlin.

Pertunjukan Boneka

Studi sebelumnya memperlihatkan bahwa sejak masa pra-sekolah kita sudah bisa memutuskan ingin duduk dekat siapa yang kira-kira berpotensi membantu kita jika terjadi masalah. Ternyata Hamlin dan timnya menemukan bahwa sejak usia bayi pun manusia sudah memiliki kemampuan ini.
Hasil studi ini secara detail dipublikasikan di jurnal Nature edisi November ini.

Hamlin dan timnya melakukan ujicoba terhadap kelompok bayi usia enam dan 10 bulan untuk diajak menonton pertunjukan boneka dengan berbagai bentuk wajah. Bayi-bayi cenderung memilih bentuk wajah yang bersahabat untuk didekati. Hamlin menyebut kemampuan ini sebagai kemampuan dimana bayi dapat memberdakan mana ekspresi wajah yang ramah atau yang sekiranya membahayakan bagi mereka.

Kemampuan ini memang belum sempurna, maka orang tua pun punya peran untuk mengembangkannya. Sejumlah permainan dan pengalaman akan membuat bayi mempertajam kemampuan ini.

Dasar Moral

Yang menarik, menurut Hamlin, kemampuan bayi membedakan siapa teman yang baik dan yang tidak ini merupakan langkah awal dari pembentukan moral mereka.

"Tentu ini masih spekulasi, tapi kami berpikir bahwa ini bisa jadi dasar sistem moral dimana manusia mampu membedakan dan menghargai perbedaan antara yang pro sosial dan antisosial," jelas Hamlin.

Wah, ternyata moral itu sudah bisa diketahui sejak kita masih bayi ya ?

Nah, kenapa sekarang kita bisa salah mencari teman sehingga salah pergaulan ? Mungkin jawabannya adalah : karena kita tidak menggunakan kepekaan bawaan kita sejak bayi untuk memilih teman atau karena “SALAH ASUHAN”...

Minggu, 30 Mei 2010

50 strange facts in the world

1. Queue is the only English word that can be read in the same way when the last four letters removed.


2. Beetles taste like apples, wasps like pine nuts (a type of bean), and worms like fried pork. 



3. Of all the words in the English language, the word 'set' has the most definitions.


4. "French kiss" in French the name ''English Kiss "


5. "Almost" is the longest word in English letters in alphabetical order.


6. "Rhythm" is the longest word in English that consist no vowels


7. Year 1386, a pig was hanged in public in France because a child's murder


8. Cockroaches can live for several weeks without a head


9. Human thigh bones are stronger than cement walls.


10. We can not kill yourself by holding your breath.


11. In every continent there must be a town called "Rome."


12. The heart beats more than 100,000 times per day.


13. Horatio Nelson's, one of LegendaryNavy generals in England, in his life, never find a way to cure the sea-sickness.

14. Jeremy Bentham framework is always present at every important meeting at the University of London


15. Right-handed people on average live nine years longer than left-handed


16. Our ribs move about 5 million times setahn, each of us breathe!


17. Elephant is the only mammal that can not jump.


18. A quarter of the bones in our body are in our feet


19. Everyone's tongue prints are different!


20. The first blood transfusion performed in 1667, when Jean-Baptiste, transfused one liter of sheep's blood to people .


21. Fingernails grow four times faster than toenails!


22. Dust in the house mostly made up of dead skin cells


23. Epidemic in 2080 estimated world population would reach 15 billion


24. Girls winked two times more than boys


25. Adolf Hitler was a vegetarian and had only one testicle!


26. Honey is the only food that can not be spoiled.


27. Months that begin on a Sunday always have a ''Friday the 13th"


28. Coca-Cola if you do not use dyes, the color was green.


29. Average hedgehogs heart beats 300 times per minute


30. More people are killed each year due to bee sting than from snakebite.


31. The contents of a pencil (wooden pencil) could use to writing along 35 miles or write 50,000 words


32. Allergies to foods / beverages that most common people are allergic to cow's milk.


33. Camels have three eyelids to protect her eyes from the desert sand.


34. Eye position of donkey allows donkey to see all four feet at all times.


35. 6 United Nations official languages: British, French, Arabic, Mandarin, Russian, and Spanish.


36. "Earth" is the only planet in the solar system that do not use the name of god


37. Burp or sneeze in a church in Nebraska, USA, it is unlawful


38. We are born with 300 bones, but when adults living 206.


39. Some worms will eat themselves if kelaperan and did not find food.


40. Dolphin sleep with one eye open


41. Probably we can not sneeze with our eyes open


42. Pieces of the world's oldest chewing gum is 9000 years old


43. Longest flight record a chicken is 13 seconds


44. Queen's Elizabeth I stated that he is a paragon of cleanliness. She showered one time every three months, not whether she needed it or not.


45. Snail has four nose


46. Owls are the only birds who can see the color blue


47. Charles Osborne had the hiccups for 69 years!


48. A giraffe can dig up its ears with its 21-inch tongue!


49. On average each person laughs 10 times a day


50. Camel bird's eyes bigger than his brain

Selasa, 25 Mei 2010

BATASAN MENIRU DAN MEMBAJAK




Kesejatian hidup itu bukan hanya “MENIRU dan BERTANYA”. Pada akhirnya jadilah dirimu sendiri walau awalnya dimulai dari tahap “MENIRU dan BERTANYA” karena makna hidup yang utama adalah “ORIGINALITAS dan KREATIFITAS”....

Dalam sebuah proses, seringkali ketika belajar kita dituntut untuk ATM alias Amati, Tiru dan Modifikasi. Mengamati dan Memodifikasi mungkin sudah sangat jelas bagi kita. Tapi Meniru nah ini yang batasannya sering tidak jelas sama sekali.

Saya pernah dan mungkin sering sekali mendengar beberapa sahabat mengatakan bahwa :

“Ilmu itu dari Tuhan, jadi kita nggak boleh jual ke orang lain. Wong kita dikasih juga gratis kok...!!”.

Biasanya saya akan tersenyum saja. Kecuali kalau memang ada di forum diskusi. Tapi kalau cuma di bagian komentar biasanya saya acuhkan. Ada beberapa hal yang perlu dikoreksi dan diberi cacatan kaki dari ungkapan sahabat kita ini:
1. Benar sekali bahwa Ilmu itu datangnya dari Tuhan. Ilmu adalah milik Tuhan dan diberikan secara gratis kepada kita.
2. Namun harus diingat juga bahwa ilmu gratis itu butuh ongkos kirim supaya sampai ke otak kita.
3. Ilmu juga butuh ongkos packing agar mudah dibawa, disampaikan dan mudah dipelajari oleh orang lain.
4. Ilmu juga butuh ongkos jaminan keaslian agar Ilmu yang sudah diberikan Tuhan itu sama persis bentuknya saat mendarat di otak kita.

Tanpa adanya ongkos kirim, ongkos packing dan jaminan keaslian, bisa dipastikan Ilmu itu akan tetap di sisi Tuhan. Kecuali Tuhan menghendaki ilmu-Nya mendarat ke otak anda sabagaimana para Nabi dan Rasul.

Sama seperti anda beli air PDAM atau air mineral kemasan. Lha siapa coba yang menciptakan air. Pernahkan kita membayar agar turun hujan. Lalu kenapa kita harus beli air ke PDAM atau beli air ke perusahan pengemasan air ?

Benar air dari Tuhan, namun air PDAM atau air mineral kemasan butuh ongkos produksi, ongkos kirim, ongkos packing dan jaminan keaslian. Mau tidak anda mengambil sendiri di sungai, lalu menyaringnya sendiri dan baru meminumnya ? Saya yakin walau anda tahu cara menyaring air anda akan jijik waktu meminumnya.

Itulah sebabnya kenapa guru-guru di sekolah, para dosen dan para penulis buku meminta kita membayar biaya tertentu. Dengan anda memberikan kontribusi sejumlah dana kepada mereka, anda sudah menyelamatkan jalur distribusi ilmu ini. Bayangkan jika seorang guru atau dosen ilmunya anda bajak atau seorang penulis buku anda bajak bukunya lalu hasil bajakan itu anda sebar luaskan ke forum-forum. Maka sang guru atau dosen atau penulis buku bisa aja kan menyetop distribusi ilmunya dan memakainya untuk dirinya sendiri dan hanya orang-orang tertentu yang dia kenal ? Lalu siapa yang rugi coba ?

Tapi, walaupun anda dilarang membajak, bukan berarti anda dilarang meniru. Bedanya apa mas ?
Membajak itu, kita mengambil materinya mentah-mentah lalu menjualnya lagi ke orang lain. Atau jika produk digital, anda sebarkan linknya ke orang lain.

Sedangkan meniru adalah anda mengambil idenya, mempelajarinya dengan seksama bagaimana cara menyampaikannya hingga anda cukup menguasainya lalu mulai membuat produk serupa.

Contoh paling gampang adalah beberapa artikel atau materi yang saya sampaikan.

Kalau anda mendownload-nya lalu menguploadnya ditempat lain dan menyebarluaskan atau menjualnya pada orang lain, maka anda disebut pembajak.

Tapi kalau anda mendownloadnya, mempelajarinya sampai paham lalu menulis artikel atau materi serupa dengan bumbu-bumbu khas anda, gambar-gambar anda sendiri dan menyebarluaskan atau menjualnya, maka anda sudah meniru. Dalam hal ini tak ada seorangpun yang bisa menyalahkan anda. Sama seperti buku tentang Facebook yang berderet di toko buku-toko buku sekarang. Jika anda perhatikan, tema dan materinya hampir sama semua tapi bahasa dan penyampaiannya aja yang berbeda-beda. Ada yang ngasih judul facebook for business, facebook untuk UKM, facebook untuk gaul, dll. Padahal isinya ya sama Panduan Facebook.. hehehe..

Nah, jika anda sudah menjadi pengajar, penulis artikel atau penulis buku, anda harus paham betul soal ini. Jangan sampai hanya gara-gara materinya sama lalu anda mencap seseorang sebagai pembajak. Apalagi mengklaim bahwa ilmu itu milik anda dan orang lain dilarang mengajarkannya.. hehehe…

Lha kalau ilmunya ilmu umum bagaimana ? kan repot kalau diklaim sebagai satu-satunya milik seseorang dan hanya orang itu yang berhak mengajarkan ilmu itu. So, menurut saya silahkan tirulah idenya dan aplikasikan dengan cara dan versi anda sendiri.

Jika saat ini kekurangan ide, bacalah buku-buku yang beredar dan sudah terbit sekarang, pelajari dan pahami lalu buatlah artikel atau buku serupa dengan gaya dan versi anda sendiri. Ingat lho, cara anda membaca sebuah buku, belum tentu sama dengan cara penulisnya membaca buku yang sama. Imajinasi dan pengalaman biasanya akan mempengaruhi cara kita memahami suatu buku.

Sabtu, 15 Mei 2010

SISTEM PENANGGALAN YANG DI GUNAKAN DI DUNIA



Masyarakat dunia mengenal beberapa macam sistem penanggalan dan kalender. Sedikitnya, ada empat sistem penanggalan, yaitu kalender masehi, hijriyah, saka, dan Cina. Masing-masing kalender tersebut dibangun dengan menggunakan mekanisme penghitungan yang berbeda satu sama lain.

Kalender masehi misalnya, menggunakan basis penghitungan kalender solar (syamsiyah) yang mengacu kepada siklus peredaran matahari. Sedang Kalender hijriyah atau kalender Islam, menggunakan sistem kalender lunar (qomariyah) yang mengacu kepada siklus perputaran bulan.

Sementara itu, kalender saka dan kalender Cina menggunakan sistem penanggalan syamsiyah dan qomariyah atau sering disebut dengan istilah kalender luni-solar.

Kalender masehi

Kata ‘masehi’ (disingkat M) dan sebelum masehi (disingkat SM) biasanya merujuk kepada tarikh atau tahun menurut kalender gregorian. Awal tahun masehi merujuk pada tahun yang dianggap sebagai tahun kelahiran Nabi Isa al-Masih. Karena itu, kalender ini dinamakan masihiyah. Sebaliknya, istilah sebelum masehi (SM) merujuk pada masa sebelum tahun tersebut.

Sebagian besar orang non-Kristen biasanya mempergunakan singkatan M dan SM ini tanpa merujuk kepada konotasi Kristen tersebut. Sementara itu, penggunaan istilah masehi secara internasional dalam bahasa Inggris menggunakan bahasa Latin, yaitu anno domini (AD) yang berarti Tahun Tuhan kita dan sebelum masehi disebut sebagai before Christ (BC) yang bermakna Sebelum Kristus.

Selain itu, dalam bahasa Inggris juga dikenal sebutan common era (CE) yang berarti ‘Era Umum’ dan before common era (BCE) yang bermakna ‘Sebelum Era Umum.’ Kedua istilah ini biasanya digunakan ketika ada penulis yang tidak ingin menggunakan nama tahun Kristen.

Sistem penanggalan yang merujuk pada awal tahun Masehi ini mulai diadopsi di Eropa Barat pada abad ke-8. Sistem ini mulai dirancang tahun 525. Namun, pada abad ke-11 hingga ke-14, sistem ini tidak begitu luas digunakan. Tahun 1422, Portugis menjadi negara Eropa terakhir yang menerapkan sistem penanggalan ini. Setelah itu, seluruh negara di dunia mengakui dan menggunakan konvensi ini untuk mempermudah komunikasi.

Meskipun tahun 1 M dianggap sebagai tahun kelahiran Yesus, bukti-bukti historis terlalu sedikit untuk mendukung hal tersebut. Para ahli menanggali kelahiran Yesus secara bermacam-macam, dari 18 SM hingga 7 SM.

Sejarawan tidak mengenal tahun 0-1 M adalah tahun pertama sistem masehi dan tepat setahun sebelumnya adalah tahun 1 SM. Dalam perhitungan sains, khususnya dalam penanggalan tahun astronomis, hal ini menimbulkan masalah karena tahun sebelum masehi dihitung dengan menggunakan angka 0. Maka dari itu, terdapat selisih satu tahun di antara kedua sistem.

Penanggalan hijriyah

Dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah atau hari-hari penting lainnya, umat Islam berpatokan pada sistem penanggalan hijriyah. Bahkan, di banyak negara yang berpenduduk mayoritas Islam, kalender hijriyah digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari.
Kalender ini dinamakan kalender hijriyah karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun di mana terjadi peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 Masehi (M). Namun, penentuan kapan dimulainya tahun 1 Hijriyah baru dilakukan enam tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW atau 17 tahun setelah hijrah, yakni semasa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab.

Namun demikian, sistem yang mendasari penghitungan kalender hijriyah telah ada sejak zaman pra-Islam. Sistem ini direvisi pada tahun ke-9 setelah hijrahnya Nabi SAW. Revisi sistem ini dilakukan setelah turunnya wahyu Allah, ayat 36-37 surah Attaubah, yang melarang penambahan hari (interkalasi) pada sistem penanggalan.

Tahun saka

Kalender saka adalah sebuah kalender yang berasal dari India. Kalender ini merupakan sebuah penanggalan syamsiyah qomariyah (candra surya) atau kalender luni solar. Tidak hanya digunakan oleh masyarakat Hindu di India, kalender saka juga masih digunakan oleh masyarakat Hindu di Bali, Indonesia, terutama untuk menentukan hari-hari besar keagamaan mereka.

Sistem penanggalan saka sering juga disebut sebagai penanggalan Saliwahana. Sebutan ini mengacu kepada nama seorang ternama dari India bagian selatan, Saliwahana, yang berhasil mengalahkan kaum Saka. Tetapi, sumber lain menyebutkan bahwa justru kaum Saka di bawah pimpinan Raja Kaniskha I yang memenangkan pertempuran tersebut. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Maret tahun 78 M.

Sejak tahun 78 M itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tahun masehi. Sejak itu pula, kehidupan bernegara, bermasyarakat, dan beragama di India ditata ulang. Oleh karena itu, peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, dan hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional.

Mengenai kaum Saka, ada yang menyebut bahwa mereka termasuk suku bangsa Turki atau Tatar. Namun, ada pula yang menyebut bahwa mereka termasuk kaum Arya dari suku Scythia. Sumber lain lagi menyebutkan bahwa mereka sebenarnya orang Yunani (dalam bahasa Sansekerta disebut Yavana) yang berkuasa di Baktria (sekarang Afghanistan).

Kalender Cina

Seperti halnya kalender saka, kalendar Cina juga menggunakan sistem penanggalan luni solar. Menurut legenda, kalendar Cina berkembang sejak tahun ketiga sebelum masehi. Para ahli menyepakati bahwa kalendar Cina sebagai patokan penanggalan yang paling lama digunakan di dunia. Kalendar ini adalah ciptaan pemerintah Huang Di atau Maharaja Kuning yang memerintah sekitar 2698-2599 SM.

Bukti arkeologi terawal mengenai kalendar Cina ditemukan pada selembar naskah kuno yang diyakini berasal dari tahun kedua sebelum masehi atau pada masa Dinasti Shang berkuasa. Pada masanya, dipaparkan tahun luni solar yang lazimnya 12 bulan, namun kadang-kadang ada pula bulan ke-13, bahkan bulan ke-14. Penambahan bilangan bulan dalam tahun kalendar memastikan peristiwa tahun baru tetap dilangsungkan dalam satu musim saja, sebagaimana kalender masehi meletakkan satu hari tambahan pada bulan Februari setiap empat tahun.

Di negara Cina sekarang, kalendar Cina hanya digunakan untuk menandai perayaan orang Cina, seperti Tahun Baru Cina, perayaan Duan Wu, dan Perayaan Kuih Bulan. Begitu juga dalam bidang astrologi, seperti memilih tahun yang sesuai untuk melangsungkan perkawinan atau meresmikan pembukaan bangunan baru. Sementara itu, untuk kegiatan harian, masyarakat Cina mengacu kepada hitungan kalender masehi.

Minggu, 24 Januari 2010

DEJA VU






Pernahkan anda mengunjungi sebuah rumah untuk pertama kalinya dan tiba-tiba anda merasa familiar dengan rumah tersebut ? Atau pernahkah anda berada dalam suatu peristiwa ketika tiba-tiba anda merasa bahwa anda sudah mengalaminya walaupun anda tidak dapat mengingat kapan terjadinya ? itulah deja vu, salah satu fenomena misterius dalam kehidupan manusia.

Banyak dari kita yang sudah pernah mendengar kata ini, tapi mungkin hanya sedikit yang mengetahui artinya.

Definisi Deja Vu

Deja vu (Déjà vu) adalah sebuah frasal dari kata Perancis yang berarti "telah melihat" atau "pernah lihat". Maksudnya mengalami sesuatu pengalaman yang dirasakan pernah dialami sebelumnya. Kata ini mempunyai beberapa turunan dan variasi seperti deja vecu (telah mengalami), deja senti (telah memikirkan) dan deja visite (telah mengunjungi). Nama Deja Vu ini pertama kali digunakan oleh seorang ilmuwan Perancis bernama Emile Boirac yang mempelajari fenomena ini tahun pada 1876. Fenomena ini juga disebut dengan istilah paramnesia dari bahasa Yunani para (παρα) yang artinya adalah "sejajar" dan mnimi (μνήμη) "ingatan".

Menurut para pakar, setidaknya 70% penduduk bumi pernah mengalami fenomena ini minimal sekali, apakah itu berupa pandangan, suara, rasa atau bau. Jadi, jika anda sering mengalami deja vu, jelas anda tidak sendirian di dunia ini.

Selain deja vu, ada lagi kata Perancis yang merupakan lawan dari deja vu, yaitu Jamais Vu, yang artinya "tidak pernah melihat". Fenomena ini muncul ketika seseorang untuk sementara waktu tidak dapat mengingat atau mengenali peristiwa atau orang yang sudah pernah dikenal sebelumnya. Saya rasa sebagian dari kita juga sering mengalaminya.

Fenomena Deja Vu yang misterius

Hampir semua dari kita pernah mengalami apa yang dinamakan deja vu: sebuah perasaan aneh yang mengatakan bahwa peristiwa baru yang sedang kita rasakan sebenarnya pernah kita alami jauh sebelumnya. Peristiwa ini bisa berupa sebuah tempat baru yang sedang dikunjungi, percakapan yang sedang dilakukan, atau sebuah acara TV yang sedang ditonton. Lebih anehnya lagi, kita juga seringkali tidak mampu untuk dapat benar-benar mengingat kapan dan bagaimana pengalaman sebelumnya itu terjadi secara rinci. Yang kita tahu hanyalah adanya sensasi misterius yang membuat kita tidak merasa asing dengan peristiwa baru itu.

Keanehan fenomena deja vu ini kemudian melahirkan beberapa teori metafisis yang mencoba menjelaskan sebab musababnya. Salah satunya adalah teori yang mengatakan bahwa deja vu sebenarnya berasal dari kejadian serupa yang pernah dialami oleh jiwa kita dalam salah satu kehidupan reinkarnasi sebelumnya di masa lampau. Bagaimana penjelasan ilmu psikologi sendiri ?

Terkait dengan Umur dan Penyakit Degeneratif

Pada awalnya, beberapa ilmuwan beranggapan bahwa deja vu terjadi ketika sensasi optik yang diterima oleh sebelah mata sampai ke otak (dan dipersepsikan) lebih dulu daripada sensasi yang sama yang diterima oleh sebelah mata yang lain, sehingga menimbulkan perasaan familiar pada sesuatu yang sebenarnya baru pertama kali dilihat. Teori yang dikenal dengan nama “optical pathway delay” ini dipatahkan ketika pada bulan Desember tahun lalu ditemukan bahwa orang butapun bisa mengalami deja vu melalui indra penciuman, pendengaran, dan perabaannya.

Selain itu, sebelumnya Chris Moulin dari University of Leeds, Inggris, telah menemukan pula penderita deja vu kronis: orang-orang yang sering dapat menjelaskan secara rinci peristiwa-peristiwa yang tidak pernah terjadi. Mereka merasa tidak perlu menonton TV karena merasa telah menonton acara TV tersebut sebelumnya (padahal belum), dan mereka bahkan merasa tidak perlu pergi ke dokter untuk mengobati ‘penyakit’nya karena mereka merasa sudah pergi ke dokter dan dapat menceritakan hal-hal rinci selama kunjungannya! Alih-alih kesalahan persepsi atau delusi, para peneliti mulai melihat sebab musabab deja vu ke dalam otak dan ingatan kita.

Baru-baru ini, sebuah eksperimen pada tikus mungkin dapat memberi pencerahan baru mengenai asal-usul deja vu yang sebenarnya. Susumu Tonegawa, seorang neuroscientist MIT, membiakkan sejumlah tikus yang tidak memiliki dentate gyrus, sebuah bagian kecil dari hippocampus, yang berfungsi normal. Bagian ini sebelumnya diketahui terkait dengan ingatan episodik, yaitu ingatan mengenai pengalaman pribadi kita. Ketika menjumpai sebuah situasi, dentate gyrus akan mencatat tanda-tanda visual, audio, bau, waktu, dan tanda-tanda lainnya dari panca indra untuk dicocokkan dengan ingatan episodik kita. Jika tidak ada yang cocok, situasi ini akan ‘didaftarkan’ sebagai pengalaman baru dan dicatat untuk pembandingan di masa depan.

Menurut Tonegawa, tikus normal mempunyai kemampuan yang sama seperti manusia dalam mencocokkan persamaan dan perbedaan antara beberapa situasi. Namun, seperti yang telah diduga, tikus-tikus yang dentate gyrus-nya tidak berfungsi normal kemudian mengalami kesulitan dalam membedakan dua situasi yang serupa tapi tak sama. Hal ini, tambahnya, dapat menjelaskan mengapa pengalaman akan deja vu meningkat seiring bertambahnya usia atau munculnya penyakit-penyakit degeneratif seperti Alzheimer: kehilangan atau rusaknya sel-sel pada dentate gyrus akibat kedua hal tersebut membuat kita sulit menentukan apakah sesuatu ‘baru’ atau ‘lama’.

Menciptakan ‘Deja Vu’ dalam Laboratorium

Salah satu hal yang menyulitkan para peneliti dalam mengungkap misteri deja vu adalah kemunculan alamiahnya yang spontan dan tidak dapat diperkirakan. Seorang peneliti tidak dapat begitu saja meminta partisipan untuk datang dan ‘menyuruh’ mereka mengalami deja vu dalam kondisi lab yang steril. Deja vu pada umumnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari, di mana tidak mungkin bagi peneliti untuk terus-menerus menghubungkan partisipan dengan alat pemindai otak yang besar dan berat. Selain itu, jarangnya deja vu terjadi membuat mengikuti partisipan kemana-mana setiap saat bukanlah hal yang efisien dan efektif untuk dilakukan. Namun beberapa peneliti telah berhasil mensimulasikan keadaan yang mirip deja vu.

Seperti yang dilaporkan LiveScience, Kenneth Peller dari Northwestern University menemukan cara yang sederhana untuk membuat seseorang memiliki ‘ingatan palsu’. Para partisipan diperlihatkan sebuah gambar, namun mereka diminta untuk membayangkan sebuah gambar yang lain sama sekali dalam benak mereka. Setelah dilakukan beberapa kali, para partisipan ini kemudian diminta untuk memilih apakah suatu gambar tertentu benar-benar mereka lihat atau hanya dibayangkan. Ternyata gambar-gambar yang hanya dibayangkan partisipan seringkali diklaim benar-benar mereka lihat. Karena itu, deja vu mungkin terjadi ketika secara kebetulan sebuah peristiwa yang dialami seseorang serupa atau mirip dengan gambaran yang pernah dibayangkan.

LiveScience juga melaporkan percobaan Akira O’Connor dan Chris Moulin dari University of Leeds dalam menciptakan sensasi deja vu melalui hipnosis. Para partisipan pertama-tama diminta untuk mengingat sederetan daftar kata-kata. Kemudian mereka dihipnotis agar mereka ‘melupakan’ kata-kata tersebut. Ketika para partisipan ini ditunjukkan daftar kata-kata yang sama, setengah dari mereka melaporkan adanya sensasi yang serupa seperti dejavu, sementara separuhnya lagi sangat yakin bahwa yang mereka alami adalah benar-benar deja vu. Menurut mereka hal ini terjadi karena area otak yang terkait dengan familiaritas diganggu kerjanya oleh hipnosis.

Sebelum kita melihat mengenai deja vu, pertama, kita perlu mengetahui apa yang disebut dengan "Recognition Memory", atau memori pengenal.

Recognition Memory

Recognition Memory adalah sebuah jenis memori yang menyebabkan kita menyadari bahwa apa yang kita alami sekarang sebenarnya sudah pernah kita alami sebelumnya.

Otak kita berfluktuasi antara dua jenis Recognition Memory, yaitu Recollection dan Familiarity. Kita menyebut sebuah ingatan sebagai Recollection (pengumpulan kembali) jika kita bisa menyebutkan dengan tepat seketika itu juga kapan situasi yang kita alami pernah muncul sebelumnya. Contoh, jika kita bertemu dengan seseorang di toko, maka dengan segera kita menyadari bahwa kita sudah pernah melihatnya sebelumnya di bus.

Sedangkan ingatan yang disebut Familiarity muncul ketika kita tidak bisa menyebut dengan pasti kapan kita melihat pria tersebut. Deja Vu adalah contoh Familiarity.

Selama terjadi Deja Vu, kita mengenali situasi yang sedang kita hadapi, namun kita tidak tahu dimana dan kapan kita pernah menghadapinya sebelumnya.

Teori-Teori Deja Vu

Walaupun Emile Boirac sudah meneliti fenomena ini sejak tahun 1876, namun ia tidak pernah secara tuntas menyelesaikan penelitiannya. Karena itu, banyak peneliti telah mencoba untuk memahami fenomena ini sehingga akhirnya kita mendapatkan Paling tidak 40 teori yang berbeda mengenai deja vu, mulai dari peristiwa paranormal hingga gangguan syaraf.

Pada tulisan ini, tidak mungkin saya membahas 40 teori tersebut satu persatu. Jadi saya akan memilih beberapa teori yang saya anggap perlu diketahui. Pertama, saya akan mulai dari teori psikolog legendaris, Sigmund Freud.

Gangguan akses memori

Sigmund Freud yang sering dijuluki sebagai bapak psikoanalisa pernah meneliti mengenai fenomena ini dan ia percaya bahwa seseorang akan mengalami Deja Vu ketika ia secara spontan teringat dengan sebuah ingatan bawah sadar. Karena ingatan itu berada pada area bawah sadar, isi ingatan tersebut tidak muncul karena dihalangi oleh pikiran sadar, namun perasaan familiar tersebut bocor keluar.

Teori Freud ini terbukti menjadi landasan bagi teori-teori yang muncul berikutnya.

Namun sebelum saya membahas teori-teori yang lain, saya ingin mengajak anda untuk mengenal satu kata ini terlebih dahulu, yaitu "Subliminal". Subliminal berasal dari kata latin, yaitu "sub" dan "Limin atau Limen". "Sub" berarti bawah, sedangkan "Limin" berarti ambang batas. Dalam artian psikologi, subliminal berarti beroperasi dibawah sadar.

Lagi-lagi berhubungan dengan bawah sadar. Maksud saya memperkenalkan kata ini adalah untuk memahami teori di bawah ini.

Perhatian yang terpecah - teori ponsel
Seorang peneliti bernama Dr. Alan Brown pernah mengadakan eksperimen yang diharapkan bisa menciptakan ulang proses deja vu. Dalam percobaannya, ia dan rekannya Elizabeth Marsh memberikan sugesti subliminal kepada subjek penelitiannya.

Mereka menunjukkan sekumpulan foto yang menunjukkan lokasi-lokasi yang berbeda kepada sekelompok pelajar dengan maksud bertanya kepada mereka mana yang dianggap paling familiar bagi mereka. Dalam percobaan ini, semua pelajar yang diuji belum pernah mengunjungi lokasi-lokasi yang ada di foto tersebut.

Namun sebelum mereka menunjukkan foto-foto itu, terlebih dahulu mereka menayangkan sebagian foto itu di layar dengan kecepatan subliminal sekitar 10 sampai 20 milidetik. Kecepatan itu cukup bagi otak manusia untuk menyimpan informasi itu di bawah sadar, namun tidak cukup bagi para pelajar itu untuk menyadari dan menaruh perhatian padanya.

Dalam percobaan ini terbukti bahwa lokasi-lokasi pada foto-foto yang sudah ditayangkan dengan kecepatan subliminal dianggap paling familiar bagi para pelajar itu.

Eksperimen serupa pernah diadakan oleh Larry Jacobi dan Kevin Whitehouse dari Washington University. Bedanya, mereka menggunakan sekumpulan kata-kata, bukan foto. Namun hasil yang didapat sama dengan eksperimen Dr. Alan Brown.

Berdasarkan pada hasil eksperimennya, Dr. Alan Brown kemudian mengajukan sebuah teori yang disebut sebagai teori ponsel (atau perhatian yang terpecah).

Teori ini mengatakan bahwa ketika perhatian kita terpecah, maka, secara subliminal, otak kita akan menyimpan informasi mengenai kondisi di sekeliling kita namun tidak benar-benar menyadarinya. Ketika perhatian kita mulai fokus kembali, maka segala informasi mengenai sekeliling kita yang tersimpan secara subliminal akan "terpanggil" keluar sehingga kita merasa lebih familiar. Ini sama seperti bongkahan es di bawah permukaan air yang naik ke atas permukaan.

Contoh, jika kita memasuki sebuah rumah sambil ngobrol dengan orang lain, maka perhatian kita tidak akan terpaku kepada kondisi rumah itu, namun otak kita telah menyimpan informasi itu secara subliminal di bawah sadar. Ketika kita selesai ngobrol, pikiran kita mulai fokus dan informasi yang tersimpan di bawah sadar mulai muncul. Seketika itu juga kita mulai merasa familiar dengan rumah itu.

Jadi, berdasarkan teori ini, deja vu tidak berhubungan dengan kejadian di masa lalu yang telah berlangsung lama.

Memori dari sumber lain

Ada lagi teori yang lain. Teori ini percaya bahwa otak kita menyimpan banyak memori yang datang dari berbagai aspek kehidupan kita, seperti film yang kita tonton, gambar ataupun buku yang kita baca. Informasi-informasi ini kita simpan tanpa kita sadari. Sejalan dengan lewatnya waktu, maka ketika kita mengalami peristiwa yang mirip dengan informasi yang pernah kita simpan, maka memori yang tersimpan di bawah sadar kita akan bangkit kembali.

Contoh, sewaktu kecil, mungkin kita pernah menonton sebuah film yang memiliki adegan di sebuah tugu atau monumen. Ketika dewasa, kita mengunjungi tugu ini dan tiba-tiba kita merasa familiar walaupun kita tidak ingat dengan film tersebut.

Teori ini mirip dengan teori ponsel, tapi teori ini setuju bahwa deja vu berhubungan dengan kejadian yang telah berlangsung lama di masa lampau.

Teori Pemrosesan Ganda (visi yang tertunda)

Dalam banyak hal, teori-teori mengenai penyebab Deja Vu tidak berbeda jauh dari yang diajukan oleh Sigmund Freud. Namun seorang peneliti bernama Robert Efron berusaha melihat lebih jauh kedalam mekanisme otak, bukan sekedar pikiran sadar atau tidak sadar. Walaupun sangat teknikal, teori yang diajukannya dianggap sebagai salah satu teori Deja Vu terbaik yang pernah ada.

Teori Efron ini berhubungan dengan bagaimana cara otak kita menyimpan memori jangka panjang dan jangka pendek. Ia menguji teori ini pada tahun 1963 di rumah sakit Veteran Boston. Menurutnya, respon syaraf yang terlambat dapat menyebabkan deja vu. Hal ini disebabkan karena Informasi yang masuk ke pusat pemrosesan di otak melewati lebih dari satu jalur.

Efron menemukan bahwa Lobus Temporal dari otak bagian kiri bertanggung jawab untuk mensortir informasi yang masuk. ia juga menemukan bahwa Lobus Temporal ini menerima informasi yang masuk dua kali dengan sedikit delay antara dua transmisi tersebut.

Informasi yang masuk pertama kali langsung menuju Lobus Temporal, sedangkan yang kedua kali mengambil jalan berputar melewati otak sebelah kanan terlebih dahulu.

Jika delay yang terjadi sedikit lebih lama dari biasanya, maka otak akan memberikan catatan waktu yang salah atas informasi tersebut dengan menganggap informasi tersebut sebagai memori masa lalu.

you can get inspiration for our life and also you can read many articles about love,sport,company,knowledge,and many others wait for my updated ya..