Tampilkan postingan dengan label public figure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label public figure. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Januari 2010

BENARKAH KARTINI MENGAJARKAN EMANSIPASI ?






Wanita dijajah pria sejak dulu...! barangkali penggalan bait lagu ini membuat kita bertanya-tanya, mengapa wanita merasa terjajah oleh kaum pria. Jika kita coba telusuri, sejak kira-kira tahun 200 Sebelum Masehi, nasib makhluk bernama wanita ini sungguh malang . Kaum laki-laki di berbagai belahan bumi meletakkan posisi wanita pada derajat yang rendah. Mereka dipaksa hidup di bawah keganasan laki-laki, sampai-sampai tidak ada batas bagi seorang suami dalam memperlakukan istrinya.

Pada sebagian bangsa Yahudi, seorang bapak diperbolehkan menjual anak perempuannya. Di Eropa, perempuan dipaksa menikah dengan lebih satu laki-laki (poliandri). Di Jazirah Arab, lahirnya bayi perempuan adalah kehinaan bagi keluarganya sehingga layak dikubur hidup-hidup. Di Mesir dan Persia , perlakuan terhadap perempuan tak kalah sadisnya. Demikianlah, berabad-abad penderitaan yang panjang, kehinaan, kerendahan dan berbagai predikat buruk tersandang di pundak wanita.

Pada abad ke-19, muncul benih-benih yang dikenal dengan feminisme yang kemudian terhimpun dalam wadah Women’s Liberation (Gerakan Pembebasan Wanita).

Gerakan yang berpusat di Amerika Serikat ini berupaya memperoleh kesamaan hak. Mereka memperjuangkannya melalui parlemen, turun ke jalan-jalan untuk melakukan aksi demonstrasi maupun pemboikotan. Pada awal abad ke-20, gerakan feminisme di AS difokuskan pada satu isu yaitu mendapatkan hak untuk memilih, karena kala itu wanita disamakan dengan anak di bawah umur yang tidak memiliki hak pilih dalam pemilu. Hingga pada tahun 1948, sejumlah wanita berkumpul di Seneca Fall, New York untuk menuntut hak-hak mereka sebagai warga negara.

Setelah tuntutan itu terpenuhi, gerakan feminisme agak tenggelam hingga tahun 1950-an. Saat itu kedudukan wanita yang ideal sebagai ibu rumah tangga tak pernah digugat, meski sudah banyak wanita yang aktif bekerja di luar rumah sebagai buah revolusi industri. Pada tahun 1960, isu feminisme berkembang lagi di AS. Tujuannya adalah menyadarkan kaum wanita bahwa pekerjaan yang dilakukan di sektor domestic (rumah tangga) merupakan hal yang tidak produktif. Kemunculan kembali isu ini karena diilhami oleh buku karya Betty Freidan berjudul The Feminine Mystiquue (1963). Freidan mengatakan bahwa peran tradisional wanita sebagai ibu rumah tangga adalah faktor utama penyebab wanita tidak berkembang kepribadiannya.

Untuk itu, wanita tidak harus kawin dan punya anak agar tidak membebani dan menghambat pengembangan dirinya. Tokoh-tokoh feminis kala itu, memberikan dorongan kepada wanita untuk membebaskan diri dari kewajiban kerumahtanggaan. Juliet Mitcher dalam bukunya Women’s Estate (1971) mengatakan “menjadi ibu rumah tangga itu sama dengan menjadi budak.” Tampak gerakan feminis kala itu berkembang menjadi wadah perjuangan untuk membebaskan wanita dari rumah tangga dan membenci laki-laki. Laki-laki dipandang sebagai figur penindas dan takut disaingi wanita. Gerakan kaum feminis yang mengecilkan arti keluarga relatif berhasil mengubah persepsi terhadap keluarga konvensional pada sebagian besar masyarakat AS.

Hal ini karena: Pertama, kuatnya pengaruh budaya materialisme yang mengukur segala keberhasilan dengan bentuk materi. Kekuasaan dalam keluarga diukur dari banyaknya materi yang dibawa ke dalam keluarga. Wanita dianggap lebih rendah powernya di dalam keluarga, jika tidak menghasilkan materi (uang).

Kedua, individualisme yang dianut kuat di masyarakat. Sistem yang ada di Barat telah menempatkan individu sebagai figur yang lebih penting dari kelompok. Individu adalah the center of human action. Menurut paham ini, pekerjaan kerumahtanggaan dianggap sebagai penindasan individu. Ketiga, teori neoclassical economics yang tidak memasukkan pekerjaan domesticwanita dalam perhitungan GNP (Gross National Product). Dengan demikian wanita dengan tugas reproduktifnya dan domestiknya seolah-olah tidak mempunyai kontribusi apa-apa dalam pembangunan.

Gencarnya kampanye feminisme tidak hanya berpengaruh bagi masyarakat AS, tetapi di seluruh dunia, virus peradaban ini terus menginfeksi tubuh masyarakat. Hal ini terbukti dari hasil yang dicapai pada Konferensi Wanita Sedunia (2 Juli 1975), di Mexico City. Konferensi tersebut merupakan Puncak Tahun Wanita Internasional (TWI) dan menghasilkan World Plan of Action of The International Women’s Year, sebagai pedoman bagi kegiatan dalam jangka waktu 10 tahun. Hasil Konferensi ini diterima Majelis Umum PBB dan dijadikan resolusi PBB yang mempunyai kekuatan untuk ditaati oleh semua negara anggota PBB, tak terkecuali negeri-negeri Islam seperti Indonesia .

Munculnya tokoh-tokoh feminisme di negeri-negeri Islam seperti Fatima Mernissi (Maroko), Nafis Sadik (Pakistan), Taslima Nasreen (Bangladesh), Amina Wadud, Mazharul Haq Khan serta beberapa tokoh dari Indonesia seperti Wardah Hafidz, Myra Diarsi setidaknya menjadi bukti bahwa gerakan inipun cukup laku di dunia Islam. Bahkan tak hanya dari kalangan wanita, dari kalangan pria juga mendukung gerakan ini seperti Asghar Ali Engineer, Didin Syafruddin, dan lain-lain. Di Indonesia, feminisme lebih dikenal dengan emansipasi wanita. Tak sedikit orang-orang yang telah memperjuangkan emansipasi tersebut menjadikan RA Kartini menjadi simbol perjuangannya. Pikiran-pikiran RA Kartini yang tertuang dalam bentuk surat-menyurat kemudian dikumpulkan dalam satu buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Dari sini kita jadi bertanya? Benarkah RA Kartini yang telah mengajarkan emansipasi? Jika ditilik lebih lanjut, apa yang diajarkan RA Kartini, pada dasarnya adalah peningkatan harkat dan martabat wanita serta menuntut hak-hak wanita yang memang itu menjadi haknya dan bukanlah emansipasi sebagaimana yang berkembang di Barat. Rupanya kiprah RA Kartini telah disalahartikan atau memang sengaja dijadikan cantolan oleh para tokoh emansipasi wanita di Indonesia untuk menggolkan tujuannya yakni menuntut persamaan hak antara laki-laki dan wanita di segala bidang, bukan sekedar menuntut apa-apa yang memang menjadi kaum wanita.

adalah SALAH BESAR jika menganggap Kartini mencita-citakan persamaan antara perempuan dan laki-laki seperti dalam paradigma barat. Kartini bahkan menyerang peradaban barat. Hal ini tertuang dalam surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 27 Oktober 1902: "Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?"

Emansipasi yang salah kaprah seperti sekarang memang merupakan racun yang disusupkan ke dalam otak kita semua. Dan kalau mau jujur, sebenarnya Barat sendiri juga tidak melaksanakan emansipasi seperti yang digembar-gemborkannya selama ini. Salah satu contoh mudah, negara Amerika Serikat yang sudah berusia 233 tahun presidennya selalu saja kaum pria. Belum ada perempuan Amerika yang dianggap pantas untuk menjadi presiden. Ini bukti yang tidak terbantahkan.

Bukankah Tuhan telah menciptakan laki-laki dan wanita dengan posisinya masing-masing secara pas, tidak mengeksploitasi satu sama lain? Tuhan telah memberikan hak-hak kepada wanita sebagaimana yang diberikan kepada laki-laki, kecuali ada hal-hal khusus yang diberikan Tuhan terkait dengan tabiat dan martabat wanita, seperti kemampuan hamil, melahirkan dan menyusui yang tidak diberikan-Nya kepada laki-laki.

Minggu, 10 Januari 2010

DIALOG SANG BUDDHA DENGAN MURIDNYA TENTANG MENCAPAI PENCERAHAN...




Alkisah, salah seorang murid Sang Buddha pada suatu malam memberanikan diri untuk bertanya pada gurunya.

“Wahai Guru...” Sang murid memulai “Telah bertahun-tahun saya menuntut ilmu pada Anda, Saya sudah mempelajari jalan menuju pencerahan, tetapi saya mendapati bahwa hudup saya belum berubah sedikit pun.”

“Terus...” tanya sang Buddha, “Apa pertanyaanmu ?”

“Selama bertahun-tahun,” kata murid itu “Sudah banyak orang yang berguru pada Anda, diantara mereka ada biarawan, biarawati, orang kaya, orang miskin, laki-laki, wanita, tua dan muda. Ada yang bertahan, ada yang tidak kembali. Ada beberapa diantara mereka yang nampaknya berhasil meraih cita-cita mereka. Mereka menunjukkan tanda-tanda kedamaian batin, mereka mengasihi sesama, mereka hidup dalam keceriaan dan kebahagiaan. Akan tetapi, tidak setiap orang mengalami hal yang sama, atau mungkin bahkan sebagian besar dari mereka tidak banyak menunjukkan perubahan dibandingkan dengan ketika mereka pertama kali datang ke sini untuk mendengarkan petuah Anda. Bagi sebagian orang, kehidupan mereka tampak kacau. Anda tidak diragukan lagi adalah guru yang hebat. Anda mengasihi dan penuh perhatian kepada orang-orang yang anda jumpai. Mengapa Anda tidak menggunakan kekuatan Anda untuk membantu mereka ? Mengapa Anda tidak membimbing mereka agar bisa menggapai cita-cita tertinggi mereka ?”

Ekpresi Sang Buddha terlihat begitu welas asih, tetapi jawaban yang diberikan sepertinya tidak berhubungan. Murid tersebut mengira Sang Buddha tidak paham pada pertanyaan yang tadi dia ajukan.

“Di mana rumah mu ?” tanya Sang Buddha.

Murid tersebut menyebutkan nama kota kelahiran dan dari negara mana dia berasal. Dia menceritakan tempat dia lahir dan dibesarkan.

“Apakah kamu masih sering pulang ke rumah mu ?” tanya Sang Buddha.

“Ya, sesering mungkin,” kata murid itu “ Ayah saya masih hidup di sana. Taman-teman sepermainan saya juga ada di sana. Saya bahkan punya kekasih dan suatu hari nanti kami berencana melangsungkan pernikahan di sana.”

“Nah,” kata Sang Buddha “ Jika kamu begitu sering pulang. Kamu pasti kenal betul dengan jalan yang selalu kamu lewati ?”

“Saya hapal di luar kepala,” jawab murid itu “Begitu hapalnya, sampai saya merasa bisa melewatinya dengan mata tertutup.” Begitu katanya dengan yakin.

“Jika kamu kenal betul dengan jalan menuju kampung halamanmu, bisakah kamu menggambaran kepada orang yang ingin menempuh jalan yang sama ? Apakah penjelasanmu dapat dipercaya dan mudah dipahami ?”

“Tentu saja. Saya sering menjelaskan kepada orang-orang yang bertanya kepada saya dan saya berusaha untuk menjelaskan segamblang mungkin. Tak ada gunanya memberikan petunjuk jalan jika itu hanya akan menyesatkan mereka.”

“Dari mereka yang pernah bertanya padamu,“ tanya Sang Buddha “Apakah semua orang menindaklanjuti dengan menempuh perjalanan ke kampung halamammu ?”

“Tidak.” Jawab murid itu. “Banyak yang bertanya, tetapi tidak semuanya mencoba menempuh perjalanan. Ada sebagian yang tidak bisa menemukan waktu dan alasan yang tepat untuk melakukan perjalanan. Sebagian nanpaknya berhasrat untuk menempuh perjalanan, tetapi entah mengapa tidak melakukannya.”

Sang Buddha bertanya lebih lanjut, “Dari mereka yang bertanya dan akhirnya menempuh perjalanan menuju kampung halamanmu, ada berapa orang yang berhasil ke tujuan akhir ?”

“Begini.” Kata murid itu “Biasanya hanya mereka yang benar-benar menjadikan kampung halaman saya sebagai tempat tujuan mereka yang sampai di sana. Jalan yang harus dilewati memang tidak mudah dan sebagian dari mereka menyerah di tengah jalan. Ada yang memilih untuk mencari jalan lain dan tidak menjadikan perjalanan tersebut sebagai tujuan utama mereka.”

“Jika begitu” kata Sang Buddha “ Kita memiliki pengalaman yang sangat mirip. Orang-orang yang datang padaku, melihatku sebagai seorang yang telah melakukan perjalanan tertentu dan tahu jalan-jalan yang telah aku lalui dengan sangat baik. Mereka meminta aku untuk menjelaskan kepada mereka. Mungkin mereka menikmati penjelasanku, tetapi tidak semua orang berani melangkahkan kakinya. Sementara mereka yang berani melangkah, tidak semua orang memilih untuk berjalan sampai akhir dan oleh karenanya tidak semua orang berhasil menggapai cita-cita tertinggi mereka.

Suasana hening sejenak

“Seperti juga dirimu” lanjut Sang Buddha “Aku sudah berusaha menjelaskan jalan yang harus kau tempuh sejelas dan sejujur mungkin, tetapi aku tidak bisa mendorong, menarik, atau menggendong mu dalam perjalanan yang kau ingin tempuh. Yang bisa aku katakan hanyalah : Aku sudah melewati jalan tersebut. Ada hikmah yang aku dapatkan dari perjalanan itu. Ini adalah pengalaman yang aku dapat dari perjalanan yang aku lakukan. Aku dengan senang hati berbagi pengalaman dengan mu. Cuma itu yang bisa kulakukan. Jika kamu ingin menuju pencerahan yang aku dapat, kamu harus menempuh sendiri jalan yang sudah kuterangkan itu”

you can get inspiration for our life and also you can read many articles about love,sport,company,knowledge,and many others wait for my updated ya..